Biarkan Kami Mencoba ( Let me try!)

14 07 2010

Oleh : Binartinengsih

Pada suatu kesempatan saya bertemu dengan teman – teman kuliah di FKIP UNRI. Lebih dari 20 tahun kami tak ketemu. Pertemuan ini memang sudah kami rencakan sejak lama yaitu  membicarakan rencana untuk mengadakan  reuni dengan teman – teman Biologi S1 tahun 1984. Sambil menikmati makan siang kami yang terdiri dari Elfis, Firdaus, Elwahyudi, Ancilia, Rosniati dan Binartinengsih, teringat dengan kejadian semasa kuliah, masing-masing teringat dengan kejadian yang kadang lucu dan ada juga saat susah-susahnya kuliah.

Rapat yang tak resmi ini akhirnya membicarakan susunan acara reuni. Pertama-tama memberi nama yang tepat untuk acara tersebut, akhir disetujui nama acara adalah Silaturahim Pendidikan Biologi 84. Salah satu dari acara tersebut nantinya akan dibentuk Ikatan Alumni Pendidikan Biologi 1984 FKIP UR yang kami sebut BioNet1984

BioNet1984, jaringan biologi atau networking biologi yang aktivitasnya antara lain ingin menerbitkan buku. Beberapa hari berikut salah satu sahabat saya membuat semacam surat edaran untuk mengajak kawan-kawan alumni untuk menulis tentang pengalaman mereka mengajar biologi. Kalimat-kalimat yang ada pada surat ajakan menulis tersebut sederhana, diberi juga petunjuk menulis, kata-kata motivasi, dan malah tulisan yang dibuat apa adanya saja, karena ada yang akan membantu menyuntingnya. Ujung-ujunngnya nanti, kalau tulisan itu jadi tentu sahabat saya juga yang akan dapat angka kredit untuk naik pangkat dan sertifikasi.

Surat edaran tersebut akhirnya sampai juga pada salah seorang teman yang sudah lama mengajar di SMA swasta di Pekanbaru. Sahabat saya itu sejak kecil sampai saat ini bekerja di Pekanbaru. Secara jujur sahabat saya mengaku betapa sulit mau menulis, ia tak mengerti dari mana dan macam mana mau memulainya. Entah pengalaman apa yang mau ditulis, ajakan menulis ini sungguh pekerjaan berat. Pengakuan jujur dari sahabat saya juga terjadi dengan sahabat saya yang lain, ajakan menulis seperti sesuatu yang tak mungkin, tak biasa dan macam-macam lagi. Sahabat saya sulit untuk memenuhi ajakan ini.

Sahabat saya yang mengajar di Pekanbaru saja punya masalah dalam menulis bagaimana dengan sahabat-sahabat saya yang di daerah apalagi yang yang mengajar di daerah pelosok sana ?. Kemampuan menulis tak ada hubungannya dengan tempat mengajar, tapi keinginan untuk mencoba dan memulainya. Kemampuan ini tidak akan muncul kalau tidak dilakukan. Ada nasehat yang mengatakan mulailah dari yang sederhana, apapun yang menurut kita biasa-biasa saja, karena yang akan menilai tulisan kita adalah orang membaca.

Ketrampilan menulis ini menjadi bagian penilaian untuk kenaikan pangkat dan sertifikasi guru. Jika bagian ini tidak terpenuhi maka kenaikan pangkat atau sertifikasi akan sulit untuk didapat. Kasus kenaikan pangkat ke IV/B yang tidak melalui prosedur benar beberapa waktu yang lalu dapat menyadarkan kita bahwa menulis dan mendokumenkan kegiatan mengajar adalah penting. Kasus ini terjadi akibat ada yang memanfaatkan peluang ketidakmauan guru menulis, kemudian diberi penawaran, maka terjadilah transaksi. Suatu artikel di Koran KOMPAS yang manggapi kasus kenaikan pangkat IV/B tertulis , bagi guru yang tidak mau belajar/membaca ibarat meminum air comberan dan bagi guru yang mau belajar/membaca ibarat meminum putih. Untuk itu kita harus terus mengikuti perkembangan pengetahuan.

Slogan yang selalu diucapkan waktu perlombaan untuk anak-anak perlu perhatian khusus Let me win, but if I cannot win, let me be brave in the attempt (biarkan kami menang, tapi jika kami tidak menang, berikan kami keberanian untuk mencobanya).

Jadi jangan takut untuk mencoba/memulai dan jika kita pernah memulai maka kita tak pernah bisa !

wassalam

Iklan




HASIL OSP 2010

22 06 2010

SMAN Plus kembali menunjukkan prestasinya, setelah mendapat predikat sekolah nomor 3 terbaik hasil Ujian Nasional tahun ini, hasil seleksi OSP untuk Propinsi Riau SMANPLUS menempati peringkat pertama dengan jumlah siswa yang lulus yaitu 14 orang. Dari delapan mata pelajaran yang diikuti, hanya ekonomi yang gagal, sedangkan untuk 7 mata pelajaran SMANPlus menempati peringkat pertama. Dari banyaknya jumlah siswa yang berhasil lulus ini merupakan yang terbanyak semenjak OSN diadakan.

Secara lengkap siswa yang telahberhasil pada OSP 2010 sbb :

Matematika: Melva  (SMANPlus), Bayu (SMAN I PKU).

Fisika: Yuslinur, Syamsul Bahri, Nadila (SMANPlus), Jimmy Wijaya (SMAN I), Andi Susanto (Kalam Kudus Selatpanjang).

Kimia : M.Rasyid Salam, Vicario Ricardi (SMANPlus)

Komputer: Tito (SMANPlus), Darwin (SMAN I), Leornard (Santa Maria), Prayoga (Kalam Kudus Selatpanjang).

Biologi : Devindra Ramkas (SMANPlus)

Astronomi : Syarisar Putra, Andy Anugrah, M.Habib (SMANPlus),

Kebunian: Rudi Firdaus, Khairunnas, Robi arafad (SMANPlus), Fatima Azahra, Sukiato (SMAN 8)

Ekonomi : Wisnu (SMAN 8)

Siswa yang telah berhasil akan mendapat training secara intensif. Kita berharap Biologi dapat dilati oleh Team TOBI yang dipimpin Dr. Agus Dana. Menurut Fendrico Pratama alumni SMAN Plus dan juga merupakan alumni IBO Beijing 2005, sebaiknya Biologi langsung dilatih oleh TOBI mengingat nantinya selain tes teori juga akan ada tes pratikum.

Semoga SMA Negeri Plus  dapat terus mempertahan prestasinya !!!





Teacher Training RSBI – Bandung

9 04 2010

Kegitan pelatihan untuk guru-guru Rintisan Sekolah berstandar International(RSBI) dimulai tanggal 4 April sampai 10 April 2010 diikuti guru-guru IPA tingkat SMP dan SMA RSBI. Tujuan dari kegiatan pelatihan , pengembangan kompetensi pedagogik dan professional, pengetahuan sciens inquiri dan pendekatan assessment pembelajaran yang inovatif dengan bahasa inggris dan ICT. Meningkatkan kompetensi mengajar dan bahan ajar untuk kelas SBI dan mengimplementasikan materi pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah. Guru IPA SMA yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 45 orang dari berbagai sekolah yang telah ditetapkan Ministry Education sebagai sekolah RSBI.Guru Biologi SMA RSBI bersama Intruktur Ibu Eneng Susilawati di kantopr QITEP P4TKIPA BANDUNG





Ironi Sertifikasi Guru

26 05 2009

Guru di NTB dan puluhan ribu guru di negeri ini tidak bisa disalahkan oleh kepongahannya membiarkan diri ditipu tawaran mendapatkan ijazah sarjana . Bahkan, kehadiran lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dianggap berkah, Pemerintah disanjung karena tidak hanya menetapkan syarat sertifikasi , tetapi juga memfasilitasi para guru untuk bias meraih gelar sarjana.

Tidak hanya itu. Tawaran pendidikan tambahan tidak dilihat sebagai proses kapasitasi demi menjadikan guru lebih kreatif. Guru tahu, ia terbelenggu keharusan melaksanakan kewajiban administrative-kurikuler. Karena itu mesti kenyataan di lapangan menunjukkan tindakan di kelas ditemui mutiara pedagogis, ia hanya bisa menerapkannya sebagai tambahan . Artinya yang dicari dalam pendidikan tambahan bukan ilmu, tetapi pemenuhan syarat. Cara apa pun yang ditawarkan dilihat sebagai berkah.

Kondisi seperti ini merupakan ironi. Guru harus memiliki ijazah sarjana, tetapi tidak diklasifikasi. LPTK dadakan tidak bisa dipersalahkan. Progra” akselerasi” yang ditawarkan adalah sindiran bagi pemerintah yang lebih mengutamakan idealisme pemerataan pendidikan, tetapi gagap membangun dasar yang kokoh.

Pendidikan kita seharusnya mengambil jalan kreatif. Pemikiran kreatif guru dan siswa harus diutamakan, bukan pemenuhan target kurikuler. Guru dipedalaman yang menghabiskan waktu dalam narasi yang menggugah demi menanamkan nilai kehidupan harus dihargai, bukan yang memanipulasi data demi memenuhi kehendak pemerintah. Negeri ini lebih menyukai gelar daripada nalar. Lebih ingin sertifikasi portopolio, bukan mematerikan nilai kehidupan. (Kompas, Jumat 22 Mei 2009, Maria FK Namang)

Tulisan tersebut sangat menarik bagi saya, karena dapat mewakili pendapat saya. Kenyataan itu sebenarnya juga terjadi tempat tempat saya. Kebijakan pemerintah memberikan tunjangan tambahan bagi guru melalui prosedur sertifikasi , seharusnya dapat dijadikan sebagai pemicu untuk mempertajam profesionalisme sebagai guru. Gelar sarjana seharusnya tidak didapatkan secara instan, tapi hendaknya melalui proses yang benar. Pengelola LPTK juga harus memiliki good feel, mentang – mentang ada kebijakan pemerintah, lalu mengambil kesempatan !

Begitu juga bagi mereka yang sudah ditunjuk sebagai pengelola sertifikasi dan team asesor, memanfaatkan kesempatan untuk menjelaskan tentang pengisian fortofolio melalui kegiatan “Workshops” sehari dengan imbalan sertifikat, snack dan makan siang, dan tak lupa adanya uang pendaftaran !





1 05 2009

Murid Pandai

Oleh: Binartinengsih

Kisah tragis kematian David Hartono Widjaja mahasiswa Indonesia yang kuliah NTU Singapura pada 2 maret 2009 yang lalu sungguh mengejutkan kita. Betapa tidak, David yang pernah juara Olimpiade sain nasional dan international merupakan salah satu murid pandai yang kita miliki.

Wajarkah kematiannya ? banyak pihak meragukan laporan hasil penyelidikan dari pemerintah Singapura, terutama orang tua dan keluarga David. Mereka menilai ada beberapa ketidakwajaran. Saat ini ada dugaan kematian David ada hubungannya dengan hasil risetnya yaitu perangkat lunak komputer bernilai tinggi. “Temuan ini dikhawatirkan berdampak ekonomi tinggi”, kata Iwan Piliang Ketua Tim Verifikasi kematian David ( Kompas, 20 April 2009).

David adalah salah satu sumber kekayaan intelektual yang kita miliki.  dan masih banyak lagi. Mengelola sumber intelektual sama pentingnya dengan mengelola sumber daya lainnya. Menurut Kompas, 20 April 2009, setidaknya ada 250-300 mahasiswa pandai Indonesia setiap tahun berangkat ke Singapura. Mereka kuliah di NTU, SMU, NUS dan mereka pada umumnya merupakan peserta olimpiade keilmuan tingkat international.

Universita luar negeri proaktif sebagai contoh siswa yang telah berhasil pada olimpiade international menjadi salah satu incaran mereka. Murid yang pandai tersebut mendapat berbagai fasilitas dan bea siswa yang menjamin kelanjutan pendidikan mereka. Bila ini berterusan kita akan kehilangan sumber daya intelektual (lose intelligence). Kita juga harus lebih curiga dengan “Rabber” yang licik.

Selama ini pemerintah kurang peduli dengan murid seperti David. Kita selalu kurang ambil pusing terhadap kekayaan intelektual yang dimiliki, contohnya saja, banyak hasil intelektual bangsa Indonesia yang saat ini sudah diklaim sebagai hasil karya bangsa lain dengan cara membuat hak patennya. Sebut saja batik, tarian Reok, lagu “Soleram” yang menjadi lagu tema untuk promosi parawisata Malaysia.  Kita selalu saja terlambat.sesungguhnya masih banyak lagi kekayaan intelektual kita yang harus dilindungi.  Demikian juga nasib yang dialami murid kita yang pandai dan  berbakat.

Pertanyaannya sekarang, adakah tempat mereka disini ?

Olimpiade Sains Makasar 2008

Olimpiade Sains Makasar 2008





Rapat Majelis Guru

24 10 2008

Sabtu, tanggal 18 Oktober 2008 seperti biasanya kami mengikuti rapat majelis guru. Beberapa hal yang menjadi agenda rapat pada hari itu antara lain, tentang mid semester yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Okt 2008. Ujian yang direncanakan akan dimulai pada jam 07.00.WIB. Kami majelis guru tidak tau persis alasan kurikulum melakukan perubahan waktu masuk  menjadi pukul 07.00 WIB. Setelah dilakukan diskusi akhirnya disepakati waktu masuk menjadi jam 07.30 WIB.

Pada kesempatan rapat hari itu juga  disampaikan juga  kerisauannya sekolah sulitnya untuk memilih guru yang akan diusulkan untuk menjadi calon guru teladan, dan adanya permintaan salah satu majalah untuk menerbitkan  profil salah seorang guru perempuan di sekolah kami yang berprestasi.

            Pertanyaannya sekarang mengapa sulit memilih  guru untuk diusulkan mengikuti pemilihan guru teladan dan guru wanita berprestasi seperti yang diminta majalah tersebut ?. Apakah tidak ada guru dari sekolah kami yang memenuhi kriteria yang ditetapkan DINAS PENDIDIKAN atau majalah tersebut ?

Ada beberapa fakta yang ingin disampaikan pada tulisan ini,  kenyataan yang  tak dapat disangkal banyak bahwa sekolah kami selalu mengikuti berbagai lomba, terutama lomba mata pelajaran dan sekolah kami selalu berhasil dan menjadi juara baik ditingkat sekolah, Propinsi, Nasional dan Internasional. Di bidang, bahasa, seni siswa sekolah kami juga  mempunyai telenta yang patut dibanggakan juga, mereka sangat kreatif menulis, menari, dan juga menyanyi sehingga  koleksi piala di ruang kantor dekat pintu utama menuju ruang kepala sekolah banyak sekali. Keberhasilan mereka telah menginspirasi sekolah-sekolah yang lain untuk ikut mengukir prestasi. Dibeberapa kesempatan tak jarang kita mendengar keberhasilan yang diraih siswa sekolah kami dijadikan indikator keberhasilan pendidikan di Riau dan juga kita bangga menjadikan mereka salah satu referensi pada setiap percakapan baik formal maupun informal. Muncul lagi pertanyaan apakah prestasi tersebut sudah menjadi takdir mereka ?

            Sebenarnya sekolah kami  bukan tidak pernah mengirim atau mengusulkan calon guru berprestasi, sudah ada  4 orang guru yang  diusulkan menjadi calon guru berprestasi, tapi mereka gagal pada seleksi awal dengan guru-guru dari sekolah lain. Sekolah kami  memiliki guru yang PNS sebanyak 21 orang terdiri dari  16 orang laki-laki, 5 orang wanita.

Tuntutan profesionalisme yang harus terus dijaga dan tingkatkan menjadikan guru-guru sekolah kami ikut dalam berbagai lomba antara Lomba Inovasi Dalam Pembelajaran, diantara guru-guru tersebut ada yang meraih juara Nasional, mengikuti Diklat tingkat seminar tingkat nasional, pelatihan tingkat nasional dan Internasional dan juga mengikuti kegiatan program “Magang” di Malaysia dan Singapura.

“Orang yang menyembunyikan kebenaran adalah orang yang lemah” (HAMKA).

 

Wassalam





OSN III Balikpapan

14 09 2008

Laporan perjalanan Olimpiade Sains Nasional SD, SLTP, SMU

Tanggal 14 – 19 September 2003 di Balikpapan Kalimantan Timur.

Oleh : Binartinengsih (Guru Biologi SMUN Plus Propinsi Riau)

Romobongan Olimpiade Propinsi Riau yang tidak dilengkapi baju seragam itu berangkat menuju Balikpapan tempat berlangsungnya Olimpiade sain tingkat nasional pada hari Minggu pukul 09.30 Wib dengan menggunakan pesawat Garuda. Propinsi Riau mengirim peserta terdiri dari 10 orang siswa SMU ( 8 orang dari SMUN Plus), 12 siswa SMP dan 5 siswa SD.Pukul 11.00 Wib kami sampai di Jakarta, sekitar 4 jam kami menunggu di Bandara udara Soekarno Hatta sebelum melanjutkan perjalanan menuju Balikpapan.

Tepat pukul 16.30 Wib kami meninggalkan Jakarta menuju kota penyelenggara Olimpiade Sain Tingkat Nasional. Selama perjalanan 1 jam 50 menit, berbagai aktivitas dilakukan, rombongan yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMU, guru pendamping, orang tua murid, Dosen UNRI dan unsur dari Dinas Propinsi itu ada yang sibuk membaca buku, menonton vidio.

Bapak Said Kamaluddin wakil kepala dinas sebagai ketua rombongan sekali-sekali terlihat berbincang dengan peserta olimpiade, “Saya akan berikan seperangkat komputer bagi yang terbaik”, demikian janji beliau, yang disambut antusias sekali oleh peserta. Ucapan ini merupakan salah satu motivasi bagi peserta untuk dapat meraih yang terbaik diajang bergengsi Olimpiade sain Tingkat Nasional yang merupakan pestanya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Olimpiade Sain ini terdiri dari tingkat SD untuk mata pelajaran matematika, tingkat SMP untuk matapelajaran matematika, Biologi dan Fisika dan tingkat SMU matapelajaran matematika, fisika, kimia, biologi dan komputer yang diikuti oleh seluruh propinsi di Indonesia. Peserta Olimpiade Sain Propinsi Riau nampaknya didominasi dari kota Pekanbaru, kemudian dari Tanjung Pinang, Dumai dan Inhil.

Terbang dengan pesawat Air Bus memang menyenangkan, tak terasa sudah lebih dari satu jam kami terbang. Sekali-sekali saya melihat ke luar jendela, tampak hari sudah gelap, “mungkin hari mau hujan”, rasa cemas muncul didalam hati. Lihat jam tangan belum lagi jam 18.00, seharusnya hari masih terang. Rupanya Eko Setiawan salah seorang peserta olimpiade matapelajaran biologi juga menyadari keadaan tersebut. Ada beberapa saat kami bercakap-cakap, tiba-tiba baru kami menyadari bahwa kami sebenarnya sudah memasuki waktu Indonesia bagaian tengah (WIT).

Pukul 19.20 WIT pesawat mendarat di bandara udara Sepinggan Balikpapan. Peserta tingkat SMP dan SMU menginap di Asrama haji Balikpapan yang terletak 20 Km dari kota Balikpapan, sedangkan peserta tingkat SD menginap di Hotel Benakutai Balikpapan.

Senen tanggal 15 September 2003, semua peserta Olimpiade sain Tingkat Nasional berkumpul di Lapangan Merdeka Embarkasi Balikpapan untuk mengikuti acara pembukaan. Disekitar Asrama haji tersebut banyak dihiasi dengan spanduk-spanduk ucapan selamat datang dari sponsor utama yaitu Telkom dan Sampoerna Foundation. Udara kota Balikpapan cukup cerah, terasa kontras sekali dengan kebersihan kotanya dan ketertiban warganya. Sesuai dengan motto yang diciptakan oleh pemerintah kotanya, Balikpapan kota beriman, kubangun dan kujaga.

Pada acara tersebut para undangan dan guru pendamping dari seluruh Indonesia ditempatkan pada satu tenda, sementara para peserta olimpiade hanya berbaris sesuai dengan Propinsi mereka. Pukul 10 .00 Wit, Menkokesra Yusuf Kalla tiba ditempat upacara bersama Bapak Dirjen Pendidikan Indrajati Sidi dan rombongan. Saat itu udara cukup panas, acara pembukaan diawali dengan suguhan tarian khas dari suku Dayak yang ditarikan secara massal oleh siswa SMU Balikpapan, kemudian diikuti devile kontingen peserta olimpiade dari 30 Propinsi di Indonesia yang dipandu drumband SLTP 1 dan 12 Balikpapan. Acara pembukaan terasa agak kurang hikmat, karena para peserta hanya berbaris dilapangan terbuka yang cuacanya cukup panas, salah seorang pembawa papan nama propinsi ada yang jatuh pingsan.

Namun demikian yang cukup membanggakan bagi peserta Olimpiade bertemunya mereka dengan para duta bangsa peraih mendali Olimpiade International. Mereka dengan jelas menceritakan tentang pengalaman mereka sehingga dapat tampil sampai ke tingkat International. Pada umumnya mereka memiliki IQ >140 dan menurut pengakuannya, mereka di sekolah kadang hanya termasuk sepuluh besar. Menurut Bernard Ricardo dari SMU Regina Pacis Bogor peraih mendali Emas Olimpiade Fisika di Taiwan tahun 2003, ia sangat berterima kasih kepada gurunya yang selalu memberi kepercayaan kepadanya untuk menjelaskan materi pelajaran kepada teman-temannya.

Besok harinya, selasa tanggal 16 September 2003 dilaksanakan tes tertulis dan akan dilanjutkan pada esok harinya untuk tes pratek di laboratorium. Untuk tingkat SMU mata pelajaran matematika dan fisika dilaksanakan di SLTPN 1 Balikpapan, mata pelajaran Biologi, Kimia dan Komputer di SMUN 1 Balikpapan. Tingkat SLTP mata pelajaran matematika dan fisika di SMPN 1 Balikpapan, biologi di SLTP 12 Balikpapan. Tingkat Sekolah dasar semuanya di Hotel Benakutai Balikpapan. Sementara para siswa mengikuti tes tertulis, guru-guru pendamping mengikuti Simposium Guru di gedung seba guna Telkom di jalan MT.Haryono Balikpapan.

Simposium tersebut dilaksanakan selama dua hari, tampil sebagai pembicara adalah para pembina olimpiade nasional untuk masing-masing bidang mata pelajaran. Mereka banyak menjelaskan tentang silabus, pengalaman dan bagaimana mekanisme sehingga siswa bisa sampai ke olimpiade international. Satu hal yang tidak kalah menariknya guru-guru yang siswa telah berhasil meraih mendali mau berbagi pengalaman dengan peserta lainnya.

Dua hari yang melelah kami lewati dengan segala suka dan dukanya. Letak Asrama haji yang begitu jauh dari pusat kota dan ditambah tidak ada tempat jualan makanan membuat peserta sulit untuk mencari makanan alternatif. Hanya kantin asrama haji satu-satunya pilihan. Menu makanan yang tidak bervariasi juga menjadi bagian yang dikeluhkan. Tapi dengan adanya pantai di belakang asrama haji tersebut dapat menjadi pelipur hati.

Balikpapan merupakan salah satu ibukota kabupaten di propinsi Kalimantan Timur yang ibukotanya Samarinda nampaknya tegas dengan warga. Ketertipan itu bisa terlihat dengan tidak adanya pedagang-pedagang kaki lima, anak-anak penjual koran di jalan, penjual bensin di pinggir jalan Ketika kita naik kenderaan umum terasa nyaman, tidak ada suara musik (Housmusic) yang memekakkan telinga, asesoris mobil yang terkesan premanisme. Begitu pula tata ruang kotanya yang tidak menumpuk disuatu tempat sangat memberi kesan yang menyenangkan ditambah lagi alamnya yang berbukit-bukit.

Penutupan Olimpiade Sain dilaksanakan pada hari kamis tanggal 18 September 2003 oleh menteri pendidikan nasional Bapak Malik Fajar. Semua peserta kelihatan sekali sudah kelelahan, maklum mereka dijejali soal yang sulit dan praktek labor yang ada belum pernah mereka lakukan. Setelah laporan dari ketua panitia yang disampaikan oleh walikota Balikpapan, kemudian diikuti sambutan Gubernur Kaltim, baru diikuti pengumuman hasil lomba.

Pengumuman pertama untuk tingkat SD, terpanggil Leonardo Axel Setyanto dari SD Cendana meraih mendali perak untuk mata pelajaran matematika. Satu prestasi yang membanggakan propinsi Riau ternyata siswa kita mampu bersaing ditingkat nasional . SMU Negeri Plus yang baru berumur 6 tahun telah ikut mengukir prestasi dengan berhasil meraih 8 mendali. Untuk mata pelajaran fisika, mendali emas diraih Endrawantan, perak atas nama Ardiansyah. Matematika mendali perak diraih Ressa Ramsky, kimia mendali perak Sutrisno, perunggu Yoad Nasriqa. Mata pelajaran biologi mendali perak Eko Setiawan, perunggu Rahmat Akbar dan Fendriko Pratama. Ke 8 siswa SMUN Plus yang dikirim Olimpiade Sain tingkat nasional semuanya meraih mendali. Sedangkan untuk tingkat SLTP kita tidak memperoleh penghargaan. Mereka yang meraih mendali akan kembali bersaing untuk terpilih ke tingkat International.

Guru SMANPlus, Mashuri, Binartinengsih, Ilyas bersama wakadis Said Kamaluddin.

Guru SMANPlus, Mashuri, Binartinengsih, Ilyas bersama wakadis Said Kamaluddin.

Hari itu kami begitu bergembira segala tanda tanya sudah terjawab. Setelah acara penutupan usai, siangnya kami dibawa berjalan-jalan oleh Bapak Said Kamaluddin sebagai ketua rombongan Riau. Pertama kami berkunjung ke tempat penangkaran buaya, kemudian ke Dupannya Balikpapan (Mall pantasi). Suatu daerah baru yang memadukan antara pusat perbelanjaan dengan tempat bermain anak-anak.

Sabtu tanggal 20 September tepat pukul 09.30 Wit kami berangkat meninggalkan kota Balikpapan. Lapangan udara Sepinggan yang letaknya ditepi laut ternyata begitu luas, bersih dihiasi dengan ornamen khas Kalimantan. Kota Balikpapan telah memberi banyak kenangan dan begitu juga dengan masyarakat yang santun. Insya Allah pada tahun 2004 nanti Pekanbaru akan menjadi tuan rumah Olimpiade Sain Tingkat Nasional. Gendangnya sudah ditabuh di Balikpapan. Selamat berjumpa di Olimpiade berikutnya.