MENJAGA PULAU TERDEPAN, MERAWAT NILAI BUDAYA Kunjungan Ke Desa Warabal Pulau Panampulai Kepulauan Aru Maluku

30 11 2012

Oleh: Binartinengsih

Guru Biologi SMAN Plus Propinsi Riau, Peserta KAWASAN 3

Tahukah kita bahwa Indonesia berbatasan dengan delapan Negara, dan banyak pulau-pulau yang berbatasan dengan Negara lain tersebut letaknya sangat jauh dan alat transportasinya juga sulit. Dan ini adalah salah satu tantangan untuk menjaga keutuhan Negara kita tercinta ini. Kejadian lepas beberapa pulau ke Negara lain, disebabkan kelalaian kita. Indonesia memang sangat luas, dengan jumlah ribuan pulau, sementara angkatan laut  kita (TNI AL) sangat terbatas fasilitas kapal patroli untuk mengawasi.

Potensi yang dapat digunakan untuk tetap menjaga pulau-pulau dan daerah perbatasan tersebut antara lain dengan merawat dan menggali sejarah dan nilai budaya daerah tersebut. Inilah satu alasan Kemendikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya mengadakan Kegaiatan  Perkemahan Wilayah Perbatasan (KAWASAN).Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 2010. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangkitkan dan senantiasa memupuk kesadaran terhadap wilayah perbatasan, sehingga tidak terjadi lagi hilang atau lepasnya pulau/wilayah Indonesia ke Negara lain.

Pantai Desa Warabal P. Panampulai Kepulauan Aru

Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, sangat cocok untuk menggambarkan jika daerah –daerah terdepan tersebut tak pernah kita kenal. Kegiatan KAWASAN ini, kami berkesempatan untuk melihat salah satu pulau yang berbatasan dengan Australia, yaitu P. Panampulai.

 Pukul 6.00 WIT (waktu Indonesia bagian timur), rombongan peserta KAWASAN sudah berkumpul di pelabuhan kota Dobo. Walau hari masih pagi, tapi cuaca panas sudah terasa sekali. Kami dibagi beberapa kelompok, karena kapal yang kami gunakan ukurannya kecil, hanya untuk 6-10 orang saja. Rencana semula kami akan menggunakan kapal patroli TNI AL, tapi permasalahannya kapal ini tidak bisa merapat di Pulau, pelabuhan tidak ada.

Kalau boleh disebutkan Ekspedisi ke laut Arafuru dimulai, rombongan kami menggunakan kapal PUSLING (Puskesmas Keliling), dan ada tiga orang petugas di kapal. Ada juga perasaan was-was, karena di dalam kapal tidak ada perlengkapan, navigasi, pelampung, sementara alat komunikasi juga tidak ada. Telepon seluler (HP) tidak berfungsi,karena sinyal tidak ada. Kapal motor kami berlayar mengikuti jalur dalam selat antara P.Maekor, P.koba, P.Kabroor , penduduk Aru mengatakannya sungai. Kapal kecil biasanya melewati selat, karena angin tidak terlalu kenjang, tapi untuk kapal besar jalur ini sulit untuk dilalui karena dangkal banyak terdapat karang.

Penduduk Desa Warabal P.Panampulai Kepulauan Aru

Setelah keluar dari selat,kapal kami mulai dihempas gelombang, pulau panampulai belum tampak. Saya coba menenangkan perasaan, kata petugas kapal (penduduk Aru) pelayaran masih aman, tapi ada diantara kami yang tidak punya pengalaman naik kapal sudah cemas sekali, “Kita kepinggir saja yang penting daratan”, katanya. Petugas kapal bekerja dengan hebat, mereka berbagi tugas masing-masing, ada yang memandu (navigasi)mengarahkan nakhoda dan ada yang mengawasi mesin kapal, situasi begini membuat perasaan saya agak lega, karena kami bersama orang-orang Aru yang menguasai lokasi dan mereka memang sudah terkenal sebagai pelaut tangguh.

Gelombang kuat Arafuru kembali menghempas kapal, sampai ada yang melewati atap kapal, terdengar suara jeritan beberapa peserta. Dari jauh pantai pulau panampulai sudah kelihatan, tapi kapal kami tidak langsung menuju ke arah pantai tersebut. Ternyata kapal harus bisa mencari jalan yang tepat untuk merapat, karena di pesisir pantai banyak terdapat karang, kalau salah menemukan jalan, maka kapal akan kandas.

 Jelang pukul 12.00 WIT kami selamat menjejakkan kaki di desa Warabal(P.Panampulai) yang berhadapan langsung dengan laut Arafuru. Memandang luasnya laut, airnya biru dengan gelombang putih, pantai pasir pulau Panampulai membuat kami lupa dengan kejadian dihempas gelombang.

Satu-satunya sekolah yang ada di Desa Warabal Kepulauan Aru

Acara penyambutan sudah disiapkan oleh camat Kecamatan Aru Tengah. Diawali dengan acara adat ”makan pinang” dan tarian adat daerah Warabal. Hiasan dari daun kelapa terpasang dikiri dan kanan jalan, begitu juga bendera merah putih terpasang disetiap rumah. Menurut penduduk memasang bendera merah putih selalu mereka lakukan ketika ada tamu yang berkunjung ke desa mereka. Inilah salah satu cara mereka mengatakan bahwa mereka bagian dari Indonesia.

Penduduk desa Warabal sebagian berasal dari Sulawesi, kehidupan mereka dengan menjadi nelayan,dan membudidayakan rumput laut. Beberapa fasilitas untuk masyarakat sudah tersedia, misalnya Puskesmas, sudah ada dokter PTT, mesjid, mesin ginset untuk mengalirkan listrik dan sekolah. Sekolah yang ada hanya sekolah dasar dan jika anak-anak desa Warabal mau melanjutkan pendidikan mereka harus pergi ke Dobo.

Lebih dari 3 jam kami di desa Warabal, anak-anak SD yang kami temui sudah dari sejak pagi bersiap untuk menyambut kedatangan kami. Sambutan dengan salam perbatasan , mereka memiliki semangat Indonesia yang kuat, walau hidup dengan keterbatasan ekonomi, dan minimnya fasilitas dan jauh dari kemajuan teknologi.

Begitu singkat kunjungan kami di pulau terdepan, tapi memberikan kesan yang sangat mendalam. Masih banyak dari masyarakat kita yang belum mendapat dan menikmati manisnya hasil pembangunan. Sumber daya alam sangat banyak, biota laut, flora dan faunanya, keindahan alam, tapi belum dapat dikelola dengan baik.

Petang di Laut Aru, perjalanan pulang ke Dobo

Keadaan laut Aru, ketika kami pulang sangat tenang, semua kapal yang membawa rombongan mengikuti jalur selat. Kapal kami tidak bisa berlayar dengan kecepatan penuh, karena harus menyeret salah satu kapal yang mengalami patah kipas.  Hari sudah mulai gelap, kota Dobo masih jauh, kapal yang tidak memiliki navigasi dan lampu, hanya mengandalkan kemampuan 3 orang petugas kapal. Inilah Kearifan Lokal penduduk Aru, mereka sangat mengenal dan menguasai alamnya. Tengah malam pukul 23. 00 WIT  kami sampai di Dobo, perjalanan seharusnya 4 jam menjadi lebih dari 7 jam, inilah realita wilayah kepulauan Aru, Indonesia Timur .

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: