Kampung Kursus Bahasa Inggris PARE (Kunjungan Guru SMANPlus Ke Desa Palem Kecamatan Pare JATIM)

5 02 2015

Nama “Kampung Inggris” yang melekat pada Desa Paleman Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur membuat penasaran  guru guru SMAN Plus untuk datang berkunjung ke desa tersebut. Libur semester ganjil tahun 2014, tanggal 22 Desember rombongan guru guru SMANPlus berjumlah 20 orang berangkat ke Pare, menggunakan pesawat Citilink dari Pekanbaru langsung ke Surabaya.  Dari lapangan udara Juanda Surabaya ke Pare kami menggunakan kenderaan  cateran, lama perjalanan lebih kurang 3 jam.

Jelang sore kami sampai di desa Paleman Kecamatan Pare, keadaan kotanya sederhana, rumah penduduknya cukup padat dan keadaan rumahnya secara umum cukup bagus, dapat diperkirakan perekonomian mereka baik. Menariknya lagi suasana desanya sangat nyaman karena sawah dan kebun rakyat yang masih luas, begitu juga dengan peternakannya. Sebagian penduduknya membuat usaha pembibitan tanaman, seperti cabe dan sayuran.(Foto)

Awalnya kami berfikiran istilah “Kampung Inggris” untuk Kecamatan Pare khusunya desa Palem karena penduduknya pandai berbahasa inggris dan mereka berkomunikasi dengan bahasa inggris , setelah kami bertemu dan berbicara dengan mereka ternyata banyak yang tidak bisa berbahasa inggris. Memang ada satu dua orang penjual yang bisa berbahasa inggris. Nama “Kampung Inggris”, bermula dari banyaknya tempat kursus bahasa inggris, diperkirakan lebih dari 150 tempat  kursus bahasa inggris ada di Pare. Banyaknya tempat kursus inggris disebabkan karena ada tingginya keinginan masyarakat untuk belajar bahasa inggris. Hasil pengamatan kami, mereka yang belajar berasal dari berbagai daerah, termasuk dari Riau. Kebetulan kami bertemu dengan rombongan pelajar dari Taluk Kuantan dan dari Dumai.

Yang jadi pertanyaan mengapa begitu banyak orang yang mau belajar bahasa inggris ke Pare ? Beberapa tempat kursus bahasa inggris di Pare menyediakan berbagai paket program kursus, program holiday untuk satu minggu, dua minggu, program 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan. Selama libur semester banyak sekali

Tempat kursus bahasa inggris pertama berdiri di pare adalah BEC (Basic English Cours) yang didirikan oleh  M. Kallen Owen tahun 1979. Banyaknya tempat kurus bahasa inggris lainnya, kabarnya didirikan oleh murid murid beliau. Kami berkesempatan berkunjung  BEC dan bertemu  dan berbincang bincang dengan  Bapak Kallen , orang paling banyak berjasa dan pencetus kursus bahasa inggris, sehingga banyak orang yang mau belajar, karena mereka yakin akan dapat menguasai bahasa inggris. Sistem pendidikan di BEC menerapkan disiplin terhadap aturan yang ditetapkan BEC. Aktivitas sehari sehari peserta kursus tidaklah melalui pengawasan. BEC menerapkan bahwa setiap orang mau belajar bahasa inggris di BEC harus memahami dan melaksanakan janji yaitu“ Bagi anda yang ingin belajar BEC harus berniat harus diatur, dan bagi yang tidak mau diatur, kami mohon untuk membatalkan niatnya !”. Janji ini sebagai alat kontrol bagi semua pelajar. Selain janji tersebut, BEC mewajibkan peserta kursus untuk berbahasa inggris setiap hari setelah 3 bulan menjalani kursus.(Foto)

Musim libur sekolah Pare banyak sekali menerima pelajar , beberapa paket kursus bahasa inggris selama liburan semester (2 minggu). Paket yang ditawarkan oleh beberapa lembaga kursus kami kira harganya relative  murah, termasuk  Camp (tempat tinggal)berupa kamar yang bisa ditempati beberapa orang. Fasilitas yang ada kasur, bantal, lemari pakaian dan ada juga yang ditambah dengan kipas angin. Kebutuhan makan dapat diperoleh dengan mudah, karena warung makanan banyak tersedia Pare dan harganya juga tidak mahal.

Suasana pedesaan yang jauh dari keramaian dan kesibukan kenderaan bermotor memberikan susasana belajar yang nyaman. Penduduknya yang ramah dan agamis sangat memberikan rasa aman bagi anak anak untuk belajar. Pengalaman kami satu minggu belajar di HEC, setiap akan mengawali belajar diawali dengan Al-Fatihah dan mengakhir belajar dengan Alhamdulillah .

Kenderaan yang banyak dipakai adalah sepeda, yang bisa disewa lima ribu rupiah untuk satu hari atau bisa juga dengan berjalan kaki. Tapi harus diingat tempat yg disediakan sangat sederhana, tidur hanya beralas kasur, semangat belajar luarbiasa ada yang belajar diteras rumah, di bawah pohon dll.

((berbagai kelompok usia. Inilah salah satu yang menarik dari Pare.





SEKOLAH SAHABAT LINGKUNGAN

16 04 2013

Setiap tamu yang datang berkunjung ke SMAN Plus Provinsi Riau selalu berkomentar, luas sekali sekolahnya, tanamannya juga rindang, sekolah berwawasan lingkungan ? Sebagian masyarakat menilai sekolah yang banyak ditanami pohon  rindang, banyak bunga-bunga identik dengan sekolah berwawasan lingkungan atau Adiwiyata. Tapi sesungguhnya kerindangan hanyalah sebagain kecil dari kriteria Sekolah peduli dan berbudaya lingkungan (Adiwiyata).

Gambar

Kementerian Lingkungan Hidup melaksanakan program Adiwiyata untuk sekolah-sekolah, dengan menetapkan empat indikator yaitu, 1. Kebijakan Berwawasan Lingkungan, 2. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan, 3. Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif, 4. Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan.

Untuk memenuhi keempat indikator harus melibatkan seluruh warga sekolah dan perlu dibentuk team sekolah dari tenaga pendidik dan peserta didik. Program sekolah Adiwiyata ini dapat dijadikan salah satu cara yang efektif untuk mengajak warga sekolah terlibat langsung dan kegiatan sekolah yang mendukung ketercapaian indikator Adiwiyata yang berkelanjutan dapat membangun dan mengembangkan perilaku  peduli dan berbudaya lingkungan.

Modal utama yang harus dimiliki setiap warga sekolah adalah sikap dan keinginan untuk melakukan dan berbuat sesuai pedoman Adiwiyata.

Gambar

Gambar

 

 

 





MENJAGA PULAU TERDEPAN, MERAWAT NILAI BUDAYA Kunjungan Ke Desa Warabal Pulau Panampulai Kepulauan Aru Maluku

30 11 2012

Oleh: Binartinengsih

Guru Biologi SMAN Plus Propinsi Riau, Peserta KAWASAN 3

Tahukah kita bahwa Indonesia berbatasan dengan delapan Negara, dan banyak pulau-pulau yang berbatasan dengan Negara lain tersebut letaknya sangat jauh dan alat transportasinya juga sulit. Dan ini adalah salah satu tantangan untuk menjaga keutuhan Negara kita tercinta ini. Kejadian lepas beberapa pulau ke Negara lain, disebabkan kelalaian kita. Indonesia memang sangat luas, dengan jumlah ribuan pulau, sementara angkatan laut  kita (TNI AL) sangat terbatas fasilitas kapal patroli untuk mengawasi.

Potensi yang dapat digunakan untuk tetap menjaga pulau-pulau dan daerah perbatasan tersebut antara lain dengan merawat dan menggali sejarah dan nilai budaya daerah tersebut. Inilah satu alasan Kemendikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya mengadakan Kegaiatan  Perkemahan Wilayah Perbatasan (KAWASAN).Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 2010. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangkitkan dan senantiasa memupuk kesadaran terhadap wilayah perbatasan, sehingga tidak terjadi lagi hilang atau lepasnya pulau/wilayah Indonesia ke Negara lain.

Pantai Desa Warabal P. Panampulai Kepulauan Aru

Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, sangat cocok untuk menggambarkan jika daerah –daerah terdepan tersebut tak pernah kita kenal. Kegiatan KAWASAN ini, kami berkesempatan untuk melihat salah satu pulau yang berbatasan dengan Australia, yaitu P. Panampulai.

 Pukul 6.00 WIT (waktu Indonesia bagian timur), rombongan peserta KAWASAN sudah berkumpul di pelabuhan kota Dobo. Walau hari masih pagi, tapi cuaca panas sudah terasa sekali. Kami dibagi beberapa kelompok, karena kapal yang kami gunakan ukurannya kecil, hanya untuk 6-10 orang saja. Rencana semula kami akan menggunakan kapal patroli TNI AL, tapi permasalahannya kapal ini tidak bisa merapat di Pulau, pelabuhan tidak ada.

Kalau boleh disebutkan Ekspedisi ke laut Arafuru dimulai, rombongan kami menggunakan kapal PUSLING (Puskesmas Keliling), dan ada tiga orang petugas di kapal. Ada juga perasaan was-was, karena di dalam kapal tidak ada perlengkapan, navigasi, pelampung, sementara alat komunikasi juga tidak ada. Telepon seluler (HP) tidak berfungsi,karena sinyal tidak ada. Kapal motor kami berlayar mengikuti jalur dalam selat antara P.Maekor, P.koba, P.Kabroor , penduduk Aru mengatakannya sungai. Kapal kecil biasanya melewati selat, karena angin tidak terlalu kenjang, tapi untuk kapal besar jalur ini sulit untuk dilalui karena dangkal banyak terdapat karang.

Penduduk Desa Warabal P.Panampulai Kepulauan Aru

Setelah keluar dari selat,kapal kami mulai dihempas gelombang, pulau panampulai belum tampak. Saya coba menenangkan perasaan, kata petugas kapal (penduduk Aru) pelayaran masih aman, tapi ada diantara kami yang tidak punya pengalaman naik kapal sudah cemas sekali, “Kita kepinggir saja yang penting daratan”, katanya. Petugas kapal bekerja dengan hebat, mereka berbagi tugas masing-masing, ada yang memandu (navigasi)mengarahkan nakhoda dan ada yang mengawasi mesin kapal, situasi begini membuat perasaan saya agak lega, karena kami bersama orang-orang Aru yang menguasai lokasi dan mereka memang sudah terkenal sebagai pelaut tangguh.

Gelombang kuat Arafuru kembali menghempas kapal, sampai ada yang melewati atap kapal, terdengar suara jeritan beberapa peserta. Dari jauh pantai pulau panampulai sudah kelihatan, tapi kapal kami tidak langsung menuju ke arah pantai tersebut. Ternyata kapal harus bisa mencari jalan yang tepat untuk merapat, karena di pesisir pantai banyak terdapat karang, kalau salah menemukan jalan, maka kapal akan kandas.

 Jelang pukul 12.00 WIT kami selamat menjejakkan kaki di desa Warabal(P.Panampulai) yang berhadapan langsung dengan laut Arafuru. Memandang luasnya laut, airnya biru dengan gelombang putih, pantai pasir pulau Panampulai membuat kami lupa dengan kejadian dihempas gelombang.

Satu-satunya sekolah yang ada di Desa Warabal Kepulauan Aru

Acara penyambutan sudah disiapkan oleh camat Kecamatan Aru Tengah. Diawali dengan acara adat ”makan pinang” dan tarian adat daerah Warabal. Hiasan dari daun kelapa terpasang dikiri dan kanan jalan, begitu juga bendera merah putih terpasang disetiap rumah. Menurut penduduk memasang bendera merah putih selalu mereka lakukan ketika ada tamu yang berkunjung ke desa mereka. Inilah salah satu cara mereka mengatakan bahwa mereka bagian dari Indonesia.

Penduduk desa Warabal sebagian berasal dari Sulawesi, kehidupan mereka dengan menjadi nelayan,dan membudidayakan rumput laut. Beberapa fasilitas untuk masyarakat sudah tersedia, misalnya Puskesmas, sudah ada dokter PTT, mesjid, mesin ginset untuk mengalirkan listrik dan sekolah. Sekolah yang ada hanya sekolah dasar dan jika anak-anak desa Warabal mau melanjutkan pendidikan mereka harus pergi ke Dobo.

Lebih dari 3 jam kami di desa Warabal, anak-anak SD yang kami temui sudah dari sejak pagi bersiap untuk menyambut kedatangan kami. Sambutan dengan salam perbatasan , mereka memiliki semangat Indonesia yang kuat, walau hidup dengan keterbatasan ekonomi, dan minimnya fasilitas dan jauh dari kemajuan teknologi.

Begitu singkat kunjungan kami di pulau terdepan, tapi memberikan kesan yang sangat mendalam. Masih banyak dari masyarakat kita yang belum mendapat dan menikmati manisnya hasil pembangunan. Sumber daya alam sangat banyak, biota laut, flora dan faunanya, keindahan alam, tapi belum dapat dikelola dengan baik.

Petang di Laut Aru, perjalanan pulang ke Dobo

Keadaan laut Aru, ketika kami pulang sangat tenang, semua kapal yang membawa rombongan mengikuti jalur selat. Kapal kami tidak bisa berlayar dengan kecepatan penuh, karena harus menyeret salah satu kapal yang mengalami patah kipas.  Hari sudah mulai gelap, kota Dobo masih jauh, kapal yang tidak memiliki navigasi dan lampu, hanya mengandalkan kemampuan 3 orang petugas kapal. Inilah Kearifan Lokal penduduk Aru, mereka sangat mengenal dan menguasai alamnya. Tengah malam pukul 23. 00 WIT  kami sampai di Dobo, perjalanan seharusnya 4 jam menjadi lebih dari 7 jam, inilah realita wilayah kepulauan Aru, Indonesia Timur .





KELAS STUDENT CENTER LEARNING (SCL)

25 11 2012

Oleh: BINARTINENGSIH

Guru Biologi SMAN PLUS Propinsi Riau

     Kegiatan belajar yang berpusat pada siswa, istilah lain Students Center Learning (SCL) sudah tidak asing lagi dan guru sangat dianjurkan untuk mengajar dengan cara seperti ini.  Cara ini menjadikan guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, sumber pengetahuan yang kemudian akan diberikan/dicurahkan kepada siswa, tapi lebih berperan sebagai seorang pengelola kelas.

     Kelas yang pembelajaran Students Center Learning (SCL)  menempatkan siswa sebagai bagian yang penting pada pembelajaran.Siswa bukan sebagai objek pembelajaran, tapi Siswa memiliki peran aktif, keterlibatan mereka tidak hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru, kemudian mencatat, tapi memberi sumbangan pemikiran sehingga pembelajaran menjadi sangat penting bagi mereka. Guru harus dapat memanfaatkan konsep-konsep yang didapat siswa dari  pengalaman belajar sebelumnya.

     AUSUBEL  mengemukakan bahwa proses belajar dalam kelas mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi/materi pelajaran disajikan kepada siswa, yaitu melalui penerimaan (receiption learning) dan melalui penemuan (discovery learning). Dimensi kedua menyangkut cara siswa dapat mengkaitkan informasi yang diterimanya itu pada struktur kognitif yang telah ada sebelumnya. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generasilasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa (Dahar 1989:110). Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan , maka informasi baru dipelajari secara hafalan. Bila tidak dilakukan usaha untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hafalan.

          Kedua dimensi proses belajar menurut Ausubel menjadi bagian yang tidak terpisahkan, tahap awal belajar siswa menerima pengetahuan baru dan selanjutnya mengasimilasikannya atau menghubungkan dengan pengetahuan yang sudah ada, proses belajar seperti ini akan menjadi belajar bermakna dan pemahaman yang lebih mendalam (deep meaning).

     Sudah saatnya guru mempraktekkan cara mengajar dengan kelas SCL, tapi kemauan guru selalu menjadi permasalahan.  guru masih terperangkap dengan sumber belajar buku, mengajar lebih kepada memindahkan materi yang di buku. Tradisi mengajar seperti ini sudah harus dikurangi. Pembelajaran dengan kelas SCL antara lain diawali permasalah atau pertanyaan. Ada baiknya permasalahan atau pertanyaan tersebut sudah tersedia dalam bentuk bahan ajarnya. Selanjutnya keterlibatan siswa untuk menemukan jawabannya  dilakukan secara berkelompok (KOOPERATIF LEARNING).

Belajar Biologi dengan metode “Kartu Jodoh” 

Pembelajaran kooperatif merupakan komponen utama dari kelas SCL. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran.
Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa yang kurang mampu maupun siswa yang lebih mampu, kerja bersama menyelesaikan tugas tugas akademik, siswa lebih mampu akan menjadi tutor bagi siswa yang kurang mampu, dengan demikian terjadi pembelajaran dengan teman sebaya.

     Manfaat lain yang didapat dari pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja. Namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan lainnya seperti, adanya pembagian tugas, menghargai pendapat teman, menyampaikan ketidaksetujuan, menerima tanggung jawab dan ketrampilan lainnya.*****

Menuntut ilmu jangalah lengah, Supaya kelak hidup tak susah

Ilmu dituntun menjadi pelita, Supaya menjauh gelap gulita.”

 “Siapa taat memegang amanah turun temurun hidup semenggah

Kalau hidup hendaklah berkah, jangan abaikan petuah amanah.”

(TENAS EFFENDY)





Perjalanan Kepulauan Aru Maluku (KAWASAN 3 tanggal 15 s/d 19 Oktober 2012)

20 11 2012

Oleh: BINARTINENGSIH AYUB

Guru Biologi SMAN PLUS Propinsi Riau/ Alumni KAWASAN 3

Perasaan cemas dan ragu muncul,setelah mengetahui lokasi kegiatan KAWASAN (Perkemahan Wilayah Perbatasan)di Kepulauan Aru Maluku. Tempat yang sangat jauh, di bagian Indonesia Timur. Saya sempat menghubungi panitia kegiatan agar diganti saja, tapi tidak disetujui. Akhirnya pada tanggal 14 Oktober 2012 sayapun berangkat.

Perihal kegiatan KAWASAN, yang dilaksanakan oleh Kemendikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya tujuannya adalah untuk membangkitkan dan senantiasa memupuk kesadaran terhadap wilayah perbatasan. Sebagai pendidik generasi muda berperan besar untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan bangsa; memberikan pemahaman tentang wilayah perbatasan untuk membekali pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan siswa sehingga terbangun komitmen generasi muda dalam menjaga integrasi dan membangun wilayah NKRI.

Setelah sampai di Jakarta jam 20.30 WIB, saya melapor kebagian pelayanan transit, dan informasi yang didapat pesawat akan berangkat ke Ambon jam 01.30 WIB (tengah malam), sambil menunggu informasi terminal keberangkatan, kebetulan bertemu dengan calon penumpang dari Ambon, saya tanyakan bagaimana perjalanan ke Aru, ternyata dia belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Pertanyaan yang ada tidak saya dapatkan jawabannya, minim sekali informasi, saya sudah coba untuk melihat peta dan internet, tapi tidak memuaskan, apalagi sebelumnya TV Swasta Nasional memberitakan kejadian gempa di Kep Aru yang berpotensi Tsunami.

Perjalanan tengah malam menuju Ambon, dengan jarak tempuh 3,5 jam. Fajar mulai muncul di balik awan, pemandangan yang indah, saya sudah berada pada zona waktu Indonesia bagian Timur yang dua jam lebih cepat. Jam 07.00 WIT pesawat mendarat di Bandar udara Internasional Pattumura yang letaknya 30 km dari kota Ambon. Cuaca pagi yang cerah,perjalanan ke Aru masih belum di ketahui. Ruang gedung bandara Pattimura yang tidak terlalu luas banyak dihiasi dengan tanaman anggrek aneka jenis, memang Indonesia kaya keanekaragaman hayati. Tanaman anggrek  yang diletakkan dalam pot susun berjejer dan dilengkapi dengan nama ilmiah, sehingga terkesan seperti ruang pamer. Saya menjadi bertambah kagum dan bangga betapa kayanya tanah airku. Beberapa turis asing terlihat asyik mengamati keindahan bunga-bunga tersebut. Inilah salah satu cara mengenalkan keragaman dan keindahan flora Indonesia.

Suasana bandara masih agak sepi, belum Nampak kesibukan,  saya bertanya-tanya dalam hati apakah peserta yang lainnya sudah berada di Ambon ?. Ada beberapa orang mencoba menawarkan kenderaan dan menanyakan tempat tujuan, awalnya saya mencoba memberi berbagai jawaban, tapi akhirnya saya menerima tawaran dari seseorang untuk menunjukkan tempat sarapan pagi, makan satu piring nasi, dua gelas teh hangat dan dua potong pisang ambon goreng harganya Rp.80000,-, mahal sekali dalam hati saya.

Usaha untuk menghubungi panitia melalui telpon saya coba lagi, syukurlah ada jawaban yang menggembirakan, ternyata panitia dari Jakarta dan peserta dari provinsi yang lainnya sudah berada di Ambon. Setelah informasi didapat saya mengamati sekitar bandara, tak berapa lama Nampak sekelompok orang yang sedang membagikan kotak-kotak kue, ternyata mereka adalah rombongan yang akan berangkat ke Aru. Kami saling mengenalkan diri, dalam waktu singkat kami sudah saling berbagi cerita, dan lucunya diantara kami sudah bersama dari Jakarta.

Perjalanan panjang dari Pekanbaru sampai ke Ambon hampir 5 Jam, ditambah tidak tidur, tak berpengaruh pada kondisi fisik. Kami masih menunggu informasi waktu keberangkatan ke Kepulauan Aru. Saya mencoba mengisi waktu dengan mengamati sekitar bandara. Bandara Pattimura letaknya di tepi laut, dan dari kejauahan kelihatan bukit-bukit, dan jauh dari pemukiman penduduk. Di seberang jalan kita akan menemukan warung-warung yang menjual souvenir khas Maluku, makanan dan minuman  yang harganya lebih murah.

Peserta KAWASAN 3 Kepulauan Aru di Lapangan Udara Pattimura Ambon

Peserta KAWASAN 3 Kepulauan Aru di Lapangan Udara Pattimura Ambon

Pesawat Trigana Air (perintis) Pesawat Fokker berpenumpang 50 orang yang akan membawa kami menuju kota Dobo ibukota Kabupaten Kepulauan Aru akan berangkat pada pukul 14.00 WIT.  Mengetahui bahwa pesawat kecil yang akan membawa kami menuju kota Dobo, perasaan cemas kembali muncul, tidak hanya saya tapi teman-teman dari provinsi yang lain juga berpikiran sama, maklum kami belum pernah. Dalam hati saya selalu berdoa semoga Allah melindungi perjalanan kami. Untuk sampai di Dobo ibukota Kepulauan Aru bisa menggunakan pesawat perintis yang terbang satu kali dalam sehari,harga tiketnya berkisar 1,3 juta – 1,5 juta dan jika waktu libur dan hari raya harganya akan lebih mahal. Jika menggunakan kapal laut memakan waktu 3 hari.

Penerbangan dari Ambon menuju kota Dobo memerlukan waktu 2,5 jam dan harus transit lapangan udara Langgor di Tual untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM). Dari Tual ke Dobo waktu 25 menit, dan  akhirnya kami sampai di lapangan udara Rar Gwamar Dobo Kepulauan Aru

Lapangan udara Rar Gwamar Dobo Kepulauan Aru

Lapangan udara Rar Gwamar Dobo Kepulauan Aru

Kedatangan kami disambut dengan upacara penyambutan oleh kepala dinas pendidikan Kab Aru Ibu Charolin. Lazim acara penyambutan, ada acara pengalungan bunga. Dan yang menariknya tarian cenderawasih yang dibawakan oleh siswa dari SMA Yos Sudarso Aru, tarian selamat datang ini biasa ditarikan untuk menyambut tamu-tamu,pakaian penari laki-lakinya seperti ada sayap burung dan uniknya topi penari laki-laki  dihiasi dengan burung cenderawasih. Inilah pengalaman pertama saya melihat burung cendrawasih asli. Bulunya yang kuning emas mengkilat, ekornya mengembang terjurai. Khas Maluku sangat terasa sekali nyanyiannya yang lembut, teduh enak didengar, saya membayangkan seperti hembusan angin yang lembut, diiringi dengan suara petikan  gitar, dan gendang, uniknya lagi sekali-sekali ada suara-suara teriakan yang terdengar nyaring, seperti memanggil sesuatu. Bunyi-bunyian itu menyatu dalam harmonisasi nada yang indah, kami benar-benar terhibur.

Tarian Cenderawasih yang dibawakan  siswa SMA Yos Sudarso Aru

Tarian Cenderawasih yang dibawakan  siswa SMA Yos Sudarso Aru

Selesai acara penyambutan perjalanan dilanjutkan ke tempat lokasi perkemahan. Dua buah Bus dari Dinas Perhubungan Kabupaten kepualauan Aru sudah dipersiapkan oleh panitia lokal. Hari sudah petang, jalan menuju lokasi tidak lebar, dipinggir jalan banyak terpasang umbul-umbul dan spanduk ucapan selamat datang KAWASAN 3 2012. Lebih kurang 15 menit kami sudah sampai di lokasi yang disebut Perkampungan pelajar.

     Letak perkampungan pelajar agak terpisah dengan pemukiman penduduk dan cukup luas, perkampungan ini baru beberapa tahun dibangun oleh pemerintah daerah kabupaten kepulauan Aru. Konsep bangunannya seperti asrama yang dibagi beberapa blok. Rencananya akan digunakan sebagai tempat tinggal siswa-siswa yang berasal dari daerah atau pulau-pulau untuk dapat belajar dan bersekolah di kota Dobo.

Panitia KAWASAN, Ibu Charolin dan Peserta KAWASAN 3 di Perkampungan pelajar Aru

Panitia KAWASAN, Ibu Charolin dan Peserta KAWASAN 3 di Perkampungan pelajar Aru





MENANAM BAKAU , MERAWAT PULAU (Kegiatan SMAN Plus Di Desa Anak Setatah Kabupaten Kepulauan Meranti)

20 11 2012

Oleh: BINARTINENGSIH AYUB

Guru Biologi SMAN PLUS Propinsi Riau

Kabupaten Kepulauan Meranti sebuah kabupaten yang terdiri dari kumpulan pulau-pulau kecil.Tanah gambut dan pantai lumpur juga menjadi ciri khas kabupaten ini.  Tanaman Bakau menjadi penting sebagai benteng pelindung pulau-pulau tersebut. Apa jadinya kalau benteng ini dibiarkan rusak, mungkin beberapa tahun ke depan luas Kabupaten Kepulauan Meranti akan berkurang. Tapi sesungguhnya kerusakan benteng pulau ini (baca Hutan Mangrove) sudah memang terjadi. Setidaknya itulah yang dapat dilihat di pantai desa Anak Setatah Kecamatan Rangsang Barat. Bagian tebing pantai Pulau Rangsang ini sudah banyak sekali yang runtuh, dan yang kami lihat beberapa meter lagi mendekati jalan desa yang sudah diaspal.

Pantai Pulau Rangsang yang mengalami Abrasi ini berbatasan langsung dengan selat Malaka. Harusnya keadaan seperti ini menjadi perhatian serius, pulau terluar ini tidak harus merana. Istilahnya Abrasi dan ini harus dicegah. Merawat pulau-pulau terluar berarti kita ikut menjaga keutuhan teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

Sebagian besar pinggir pantai P. Rangsang mengalami Abrasi serius,

Semangat ini juga yang menginspirasi SMANPlus untuk ikut bersama-sama mengembalikan keutuhan pantai pulau Rangsang. Kegiatan ini dapat terlaksana karena dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti bersama Kelompok Pelestari Wilayah Pesisir TEGAS Desa Anak Setatah, Badan Lingkungan Hidup (BLH), dan SMA Negeri 2 Selatpanjang. Kelompok peduli lingkungan ini sudah banyak menerima penghargaan dari Pemerintah Propinsi dan Kabupaten Kepulauan Meranti. Berkat ketekunan dan keseriusan mereka, kelompok ini sudah berbadan hukum dan memiliki struktur organisasi yang  terstruktur dengan baik. Mereka sudah menginspirasi penduduk di pulau Rangsang,untuk ikut memulihkan dan menjaga pantai. Saat ini masyarkat pulau Rangsang sudah memahami bahwa hutan Mangrove harus segera dipulihkan, pantai tidak bisa dibiarkan runtuh.

Dari pulau Tebing Tinggi menuju pulau Rangsang menggunakan kapal (POMPONG) memberi pengalaman yang menyenangkan, maklum banyak juga peserta didik SMANPlus tidak pernah menggunakan kapal jenis ini. Kapal yang ukurannya tidak terlalu besar dan digerakkan mesin ini banyak digunakan masyarakat Kebupaten Kepulauan Meranti untuk bepergian ke satu pulau dan pulau lainnya. Dan beberapa tahun yang lalu kapal ini merupakan transportasi utama, tapi seiring dengan perkembangan waktu, sebagian masyarakat sudah banyak menggunakan speadboat sebagai alat transportasi.

Saya bersama kelompok TEGAS Desa Anak Setatah Kacamatan Rangsang

 

Saya bersama kelompok TEGAS Desa Anak Setatah Kacamatan Rangsang

Pengalaman menanam bakau sangat memberi nilai – nilai pendidikan yang berharga. Nilai pendidikan yang didapat antara lain, pengetahuan yang didapat secara langsung melalui narasumber yang langsung berkimpung dilapangan. Jenis tanaman yang membentuk hutan Mangrove bermacam-macam antara lain, Api-Api, Bakau, Nyirih, Cingam, Kedabu, Berembang, Tematu, Sesop dll. Dari jenis tanaman tersebut, pohon Api-Api adalah tanaman terdepan kalau diurutkan dari laut ke darat. Meminjam istilah dari Ketua Kelompok Pelestari Wilayah pesisir TEGAS desa Anak Setatah, tanaman Api-Api diistilahkan sebagai Prajurit, langsung berhadapan dengan gelombang laut. Tanaman ini mempunyai akar nafas yang muncul di atas permukaan laut (gerak geotropi negatif, melawan gaya gravitasi bumi.)Batang tanaman Api-Api tidak memiliki nilai ekonomi tinggi, dan tidak dapat dijadikan arang, seperti tanaman Bakau. Menurut informasi yang kami dapat tanaman ini sedikit memiliki kesulitan dalam menanamnya, cepat mati, dan jika diantara tanaman ini ada yang mati harus segera diganti/ disulam segera, begitu seterusnya sehingga pohon Api-Api ini menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Salah satu tanda Api-Api sudah tumbuh dengan baik yaitu adanya hewan kerang disekitar ponon tersebut, begitu juga pantai agak menjadi dalam, mungkin sebagain akar dari pohon Api-Api ini sedang mencari celah-cvelah untuk tumbuh.

Buah tanaman Api-Api juga memiliki bentuk agak runjing dan berukuran kecil, kotiledonnya seperti dua lapis, warnanya hijau. Cara menanamnya terlebih dahulu membuka kulitnya, dan jika tidak dilakukan maka bijinya tak mau berkecambah, setelah bijinya terbuka baru ditanam di dalam polibag.

Kegembiraan setelah selesai menanam lebih dari 2000 bakau

 

Kegembiraan setelah selesai menanam lebih dari 2000 bakau

Tanaman Bakau justru lebih mudah tumbuh, biji yang panjang dan runjing. Bentuk buah seperti sebagai bentuk adaptasi terhadap tempat hidup pada pantai berlumpur. Jika buah bakau sudah matang, kemudian jatuh sehingga dengan mudah untuk menanjap di dalam lumpur pantai. Dibandingkan tanaman Api-Api, peluang tumbuh tanaman Bakau lebih besar, tapi dengan keadaan pantai yang sudah Abrasi berat sangat tidak mungkin tanaman-tanaman ini tumbuh secara alami.  Tanaman Bakau tumbuh setelah pohon Api-Api, barisan kedua, kalau boleh diistilahkan sebagai komandan. Bakau yang memiki akar tunjang yang keluar dari bagian batang, sehingga menjadikan tanaman ini penting bagi perlindungan pantai. Bakau memiliki nilai ekonomis yang tinggi, karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, untuk dijadikan penguat pondasi bangunan. Manfaat lain untuk dijadikan arang, sebagai sumber energi untuk berbagai keperluan.

Siswa SMAN Plus generasi 12 membawa bibit Bakau

Untuk sampai di lokasi kami harus berjalan dengan menempuh perjalanan ± 3 Km dari pelabuhan Bantar, karena daerah ini belum memiliki tranportasi umum, hanya menggunakan motor roda dua. Lebih dari tiga jam kami melakukan penanaman, lumpur pantai yang sudah menempel disebagian baju dan badan tidak menyurutkan semangat. Kaki yang terbenam ke dalam lumpur hingga mencapai lutut, dan cukup menguras energi untuk mengangkatnya, tapi kami gembira, tak terasa lebih dari dua ribu pohon Bakau sudah ditanam.Semoga alam, air laut, pasang dan surut, hempasan gelombang dapat menjaganya. Kelak beberapa tahun nanti, kami berkesempatan datang kembali, pohon bakau yang tumbuh subur agar menyambut kedatangan kami. Banyak pengalaman yang kami dapat, kesungguhan Kelompok Pelestari Wilayah Pesisir TEGAS desa Anak Setatah yang peduli dengan penyelamatan hutan Mangrove dan memberi kami kesempatan untuk belajar menjadi bagian perjalanan hidup kami. Terima kasih****





ADA APA DENGAN SBI

21 05 2011

Oleh : Binartinengsih

Sekolah berstandar Internasional sudah lama dilaksanakan, tapi  selalu yang diberitakan dikoran-koran lokal maupun nasional adalah kritik dan keluhan dari masyarakat. Hampir tidak pernah kita dengar tentang keberhasilan dari adanya sekolah berstandar Internasional. Kritik dari  masyarakat antara  lain,Pertama : tingginya biaya pendidikan yang harus dibayar oleh orang tua murid, sehingga terkesan sekolah SBI hanya untuk kalangan orang mampu secara ekonomi , sehingga anak-anak yang memiliki kemampuan baik, tapi kurang mampu secara ekonomi makin sulit untuk mendapatkan sekolah yang berkualitas. Keluhan ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pendidikan Nasinal, “Tidak penting namanya apa internasional atau nasional. Masyarakat ingin institusi pendidikan berkualitas. Jangan pakai internasional kalau jiwa belum internasional. (KOMPAS,17 Maret 2011). Kedua :  Penyalahgunaan dana Blokgran dari Kementrian Pendidikan untuk penyelenggaraan SBI, seperti pengakuan dari wakil menteri pendidikan nasional Fasli Jalal, dana RSBI tidak seluruhnya digunakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas guru, melainkan pembangunan fisik. Pemerintah akan mengevaluasi masalah penggunaan dana, perbaikan tenaga pengajar RSBI terutama kualitas kemampuan bahasa inggris (KOMPAS 15 Maret 2011). Ketiga, Ketidakjelasan konsep SBI, karena rujukan akademiknya tidak jelas, pernyataan dari Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia Ahmad Rizali (KOMPAS 15 Maret 2011).

Banyaknya kritik dan keluhan dari masyarakat sehingga akhirnya pemerintah berkesimpulan akan melakukan evaluasi terhadap RSBI. Evaluasi akan dilakukan  dengan mengambil sampel 130 sekolah difokuskan pada tiga hal, yaitu tata cara penerimaan murid, pungutan dana dari orangtua dan sumber daya manusia. Pemerintah tidak akan menambah sekolah RSBI baru. “Peraturan Mendiknas akan mengikat 1300 RSBI yang sudah ada. Keberadaan RSBI tersebut nanti akan ditinjau kembali.” (KOMPAS 15 Maret 2011).

Hambatan SBI

Konsep sekolah bertaraf Internasional seperti yang terdapat pada buku Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah Bertaraf Internasional adalah: Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional merupakan “Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD)dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional”. Pada prinsipnya, Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional harus bisa memberikan jaminan mutu pendidikan.

Bagaimana karakteristik sekolah bertaraf Internasional ?

Sekolah bertaraf Internasional memiliki keunggulan yang ditunjukkan dengan pengakuan internasional terhadap proses dan hasil atau keluaran pendidikan yang berkualitas dan teruji dalam berbagai aspek. Pengakuan internasional ditandai dengan penggunaan standar pendidikan internasional dan dibuktikan dengan hasil sertifikat berpredikat baik dari salah satu Negara anggota OECD/maju.

Ruang Kelas SMA Negeri Plus Propinsi Riau

Keputusan pemerintah menerapkan sekolah bertaraf Internasional sebagai bentuk respon  pemerintah terhadap cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan tenaga berpengetahuan yang menguasai teknologi dan mempunyai keahlian dan ketrampilan. Tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan yang memadai akan memberi kontribusi pada peningkatan produktivitas nasional. Dengan demikian pada  akhirnya mengharuskan bidang pendidikan  untuk selalu melakukan perubahan dan penyesuaian agar memiliki daya saing di forum internasional

Sekolah bertaraf Internasional diharuskan melaksanakan kurikulum nasional yang sudah ditambah dengan kurikulum Negara OECD/ Negara maju. Penyesuaian kurikulum dengan cara melakukan adaptasi terhadap standar kompetensi /kompetensi dasar yang sama dan adopsi terhadap standar kompetensi/kompetensi dasar yang berbeda.

Pengalaman sebagai seorang guru disekolah yang insyAllah akan bertaraf Internasional dan sudah berusaha untuk mempelajari dan memahami kurikulum Negara OECD, ada beberapa hambatan dalam melaksanakan kurikulum tersebut : Pertama, Standar isi kurikulum nasional sudah padat materi, dan jika diadopsi lagi materi dari Negara OECD/Negara maju, maka materi menjadi betambah banyak Kedua : Cara mengajar guru yang belum terbiasa dengan menggunakan ketrampilan proses. Ketiga: guru belum mengenal dengan baik bentuk dan cara penyusunan soal dari Negara OECD. Keempat :penggunaan  bahasa inggris/ bahasa asing masih kurang.

Hikmah SBI

Tentu kita tidak sependapat jika ada yang memahami SBI harus dengan biaya mahal, Sekolah yang ditunjuk sebagai SBI dengan menggunakan berbagai alasan mengambil kesempatan untuk memungut biaya pendidikan yang tinggi, tanpa diikuti pelayanan dan program nyata untuk menuju taraf internasional sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Identifikasi terhadap siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri perlu dilakukan sejak dari awal. Dan mereka harus mendapat pelayanan yang jelas dan program nyata, sehingga mereka akan lebih siap untuk mengikuti ujian atau tes guna mendapatkan sertifikat Internasional.

Barangkali memang perlu dilakukan evaluasi bagaimana sebaiknya pelaksaan SBI, terutama masalah  pembiayaan. Yang penting tujuan dari SBI itu tercapai.

Dari banyak kritikan masyarakat tentang pengelolaan sekolah bertaraf Internasional, terdapat juga banyak hikmah yang didapatkan. Pertama, mengetahui dan memahami Managemen sekolah dengan menerapkan prosedur ISO 9001, sehingga setiap aktivitas selalu mempunyai panduan dan terkendali. Kedua, kemampuan dibidang ICT menjadi lebih baik, seperti penggunaan  E- Learning. Ketiga, kesempatan untuk menggunakan bahasa inggris lebih banyak. Keempat, adanya program magang di luar negeri telah menambah wawasan dan pengalaman. Kelima, peluang untuk melanjutkan pendidikan S2 menjadi lebih besar.

Mari kita tunggu apa yang akan dilakukan pemerintah, yang jelas setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Salah satu upaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu  sebagai mana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional pada Pasal 50 Ayat (3), yakni “Pemerintah dan/atau Pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi sekolah yang bertaraf  internasional”.